berjemur bareng anak tetangga

Alhamdulillah…..  Minggu, 16 Oktober 2011 aku bisa benar2 refreshing setelah sekian lama bekerja hanya didepan komputer.
Hebatnya lagi refreshing kali ini lebih seru karena bareng teman2 kampung di jogja.

Tujuan pertama adalah pantai sundak.
Saat di pantai sundak hawa panas bener-bener membakar kulit kami, tp gak apa-apa, kalo orang indonesia takut hitam, mending gak usah tinggal di Indonesia 😀

Pantai sundak sudah sangat terkenal sebagai tempat wisata bagi orang2 jogja sehingga suasana pantai di siang yang panas itu sangat ramai, bahkan tempat bermain bagi kelompok kami hampir tidak ada. Setelah beberapa permainan kecil kami sudah sangat capek karena kebagian tempat yang miring. wkakkakk… 😆

Setelah istirahat sebentar kami berunding, pantai mana lagi yang akan kami kunjungi di deretan pantai selatan di wilayah Kab. Gunungkidul tsb. Akhirnya kami putuskan untuk pergi ke pantai ngobaran karena menurut cerita dan foto2 dari temannya teman yang sudah pernah kesana, tempat itu sangat indah dan lebih alami karena jumlah wisatawan yang berkunjung tidak sebanyak di pantai sundak.

Diskusi berlanjut ke sopir bus yang kami tumpangi dan alhamdulillah pak sopir ternyata orang Gunungkidul asli sehingga tau persis jalan pintas dan tempat seperti apa yang akan kami kunjungi berikutnya. Lewat jalan pintas, kami bisa segera sampai di pantai Ngobaran.

Kami sangat kecewa ketika sampai ditempat itu karena yang kami jumpai adalah hanya kumpulan patung2 buatan manusia yang masih terbilang baru sehingga gak ada juga nilai sejarahnya. Dengan bekal nasi kardus yang kami bawa, kami berusaha menghibur kekecewaan kami dengan mengisi perut lapar kami dengan nasi sebanyak-banyaknya 😆

Setelah beberapa saat selesai berfoto ria di tebing2 sempit kami berniat langsung pulang.

Sebelum pulang kami berniat sholat dhuhur dulu, di sebuah musholla kecil yang ada di bawah jalan menuju patung2 tadi.

Setelah sampai di musholla, ternyata… oh ternyata……

tempat imamnya menghadap selatan!!!!

What the hell???
ternyata ini bukan musholla!!!
ini adalah tempat orang kejawen semedi menemui ratu pantai selatan,
tp tempat imam itu berlubang menghadap pantai dan di ujung ruangan itu kami bisa melihat pantai sempit dengan pasir putihnya yang lembut, HOREYYY……

akhirnya kami bisa menemukan tempat bermain kami dan yang tahu tempat itu diantara wisatawan yang datang juga hanya sebagian kecil saja sehingga kami bisa bermain sepuasnya ditempat itu, menunggu datangnya terjangan ombak dan berpegangan di karang2 terjal, mengubur teman2 dengan pasir pantai, bermain kejar2an, menyusuri tebing2 terjal seputar pantai, lalu akhirnya kami berfoto bersama.

kami jadi lupa dengan kekecewaan yang tadi dan juga alamaakkk……..
kami lupa belum sholat dhuhur 😛

alhamdulillah ruksha/keringanan dari Allah kami gunakan untuk menjamak sholat dhuhur dengan sholat ashar menjadi satu diwaktu ashar atau disebut juga dengan jamak takhir.

setelah mandi kami sholat berjamaah disebuah warung kopi yang menyediakan tempat sholat dengan tikar2 sederhana yang digelar disudut warung itu.

puas rasanya bisa bermain-main di udara terbuka, dibawah terik matahari, diantara deburan ombak dan cengkereman karang pantai di penghujung musim panas di pulau jawa.

terima kasih ya Rabb……. telah engkau tunjukkan pada kami bahwasanya begitu indah ciptaanMu di ujung selatan pulau jawa ini.

Advertisements

Parade Menyambut Hari Baru.

Foto disamping diambil di 1/3 puncak gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah.

Gunung yang lebih runcing di pojok kanan itu merapi, terus disebelahnya apalagi kalo bukan gunung Merbabu.

Pengambilan Foto saat pergantian waktu antara shubuh menjadi pagi.

Mentari mulai naik perlahan dari ufuk timur bersamaan dengan gemuruh angin gunung yang mengaliri lembah-lembah terjal membawa energi alam membuat awan putih yang sangat tebal terlihat bergulung-gulung dahsyat seperti ombak yang terhempas badai di pantai karang.

Tak lupa ilalang dan semak belukar ikut meramaikan detik-detik pergantian ini. semuanya terbangun bahkan burung-burung kecilpun banyak yang berterbangan dan mulai mencari makan. asal tahu beberapa saat sebelum prosesi pergantian ini, alam disekitarnya sangat tenang, sunyi…. lalu tatkala mentari telah naik dan memancarkan sinarnya dengan sempurna, semuanya kembali tenang. angin berhenti bertiup, awan putih yang tebal hilang tak berbekas, ilalang melambai-lambai dengan tenang, burung2pun hanya sesekali melintasi para pendaki.

Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah mengatur semua ini  . Moment ini seperti parade pergantian penjaga istana2 di eropa. Alam pun ternyata hidup dan sangat menghargai kehidupan itu, buktinya saat pergantian ini mereka hargai dengan parade yang sangat indah… menandakan bangkitnya kehidupan itu sendiri.

Aku sendiri paling suka foto ini, sering kujadikan desktop wallpaper dikomputer kerjaku. Aku bisa mengingat kembali desiran angin yang menerpaku, dinginnya udara gunung yang menusuk-nusuk kulit dan lembabnya rumput2 karena embun pagi, tp sayang waktu menuruni gunung ini aku terpeleset dan berusaha mengerem agar tidak menabrak rekan pendaki wanita di depanku yang tiba-tiba berhenti karena capek. Akibat pengereman mendadak itu aku terjungkal, lalu bergulung-gulung ke bawah beberapa meter dan baru bisa berhenti setelah berhasil meraih sekumpulan belukar.

Seharusnya kalo wanita jalannya dibelakang pria biar mata pria gak liat2 tubuh wanita di depannya yang pasti menggoda, tp kondisi di gunung beda. Mesti bisa menjaga yang lebih lemah.