sungai kecil 3

sekali lagi dalam hati sang istri berdoa dan menguatkan tekadnya, “semoga baik2 saja ya Allah… bismillahirrahmanirrahiim.”

“soal pertanyaan mas tadi pagi itu.”

“oohhh… itu aku sudah melupakannya kok sayang, aku hanya iseng aja tanya dan cari2 bahan pembicaraan kita.”

“gak mas!, aku belum bisa melupakannya.
menurutku itu juga bukan hal iseng, mas bilang gitu karena gak mau aku jadi marah kan?
aku mau bilang sesuatu, terserah mas mau menanggapinya seperti apa”

nada bicara tinggi tanda serius dari si istri membuat si suami meletakkan buku bacaan tebalnya diatas ranjang tempat mereka duduk sekarang, lalu diikuti dengan meletakkan kacamata diantara halaman yang terakhir dibacanya. dibiarkan buku tebal itu terbuka mendengar pembicaraan mereka selanjutnya.

“mas soal kemiripan wajah anak pertama kita itu memang tidak ada yang mirip dengan siapapun diantara keluarga kita.”

“lalu mirip siapa dong sayang?”

“dia… mirip laki-laki yang pernah kucintai sebelum mas menikahi aku.”

sang suami termenung sejenak. seakan sedikit menggeser beban dihati, dia berusaha menimpali dengan kalimat yang menenangkan diri sendiri.

“oohh… pantesan dia jadinya kayak orang indo turunan eropa, punya hidung mancung dan postur tinggi besar. laki2 sebelum aku juga begitu kan posturnya?”

“iya mas.
tp aku gak selingkuh dengan dia mas,
bahkan sebelum menikah dengan mas pun aku gak pernah melewati batas2 agama.
saat aku menikah dengan mas, dia sudah pindah di kota lain dan sejak saat itu sampai sekarang aku gak tahu keberadaannya dimana.”

“aku percaya sayang.
malam pertama kita kan kamu juga masih berdarah ­čÖé ”

“hiiihhh… ┬ámasak itu aja sih yang diingat,
jadi mas sekarang percaya kan kalo itu darah daging mas?”

“loh kan aku sudah bilang tadi pagi, kalo aku gak pernah meragukan kesetiaanmu.”

“tapi kok bisa mirip dengan laki2 sebelum mas ya?”

“hmm… dulu dikisahkan,
ada salah seorang sahabat yang berkulit putih dan istrinya juga berkulit putih,
tapi ketika istrinya melahirkan salah seorang anak mereka ada yang berkulit hitam.
Sang suami mulai menuduh istrinya dengan yang tidak2.
Singkat cerita mereka membawa ke ahli nasab di kala itu.
Kalo sekarang ya kayak tes DNA lah.
Hasilnya diketahui bahwa anak itu seratus persen keturunan suaminya.
Lalu sang ahli nasab menanyakan ke suami itu,
“apakah di kamar kalian ada gambar laki2 lain?”
“hmm… ada sih pak, ┬álukisan prajurit afrika berkulit hitam yang sangat gagah, dipasang tepat menghadap ranjang kami”
“ya, mungkin saat kejadian itu istrimu sedang melihat dan membayangkan prajurit afrika yang gagah itu, sehingga anakmu menjadi seperti ini.”

kejadiaan seperti itu bisa saja sayang, bahkan ketika orang hamil sering membayangkan atau melihat laki2 lain, bisa jadi anaknya ada yang ikut seperti apa yang dibayangkan.”

“jadi malam pertama kita, kamu pejamkan mata itu membayangkan laki2 itu ya?”

“yeee… aku malam itu gak sempet bayangin apa-apa mas.
aku pejamkan mata itu nahan sakit mas.
mas sih pake langsung maen serbu aja.”

“wkaakakk…. oohhh sakit toh sayang?, maaf-maaf… ­čśŤ ”

“iya gpp, toh mas waktu itu langsung berhenti dan besoknya aku datang bulan hingga aku bisa istirahat beberapa hari.”

“berarti dihari-hari lainnya ya yang”

“apanya mas?”

“ya pas berhubungan, pas kamu bayangin laki2 itu.”

“iya mas, aku minta maaf ya mas.
aku masih saja mengingatnya walau sudah bersama mas.
walau menurutku mas adalah laki2 terbaik yang pernah dikaruniakan padaku oleh Allah dalam hidupku,
tp ingat gak pas berhubungan, eehh… tp mungkin pernah juga sih ­čśŽ ”

“apakah sampai sekarang masih saja ingat dia?”

Dengan rasa takut dan putus harapan sesaat, sang istri menjawab pasrah dengan menundukkan kepala dan mata berkaca-kaca.
“kadang2 sih mas.”

tik tok tik tok tik tok…., jam dinding menyerobot masuk dalam dialog mereka saat kebisuan menyapa keduanya, mengingatkan sang istri bahwa pengakuannya bisa berakibat fatal untuk hubungan mereka berdua.
“sekarang terserah mas mau apa dengan kondisi ku yang seperti, dengan kondisi hatiku yang seperti ini.
aku paham kalo aku sudah menduakan mas dengan laki2 lain.
aku sudah berdosa dengan cara seperti ini.
kalo mas mau menceraikanku karena ini, aku terima.
kalo mas mau memadu aku sebagai balasan atas perbuatanku ini, aku terima.
tp kalo mas mau memaafkan aku, itulah harapan yang paling ingin aku terima.”

sejurus kemudian dipandangnya istri yang sedang jujur dihadapannya, tubuh mungil istrinya tampak sedikit bergetar, tampak sedikit basah seprei tempat tidur mereka tepat dibawah dagu istrinya yang sedang menunduk. Kalo itu ditelusuri ke atas, sumber air itu adalah mata istrinya.

laki-laki tinggi kurus, tapi terlihat kuat itu mulai tampak berpikir keras. berusaha merangkai kata yang pas buat istrinya dan kelanggengan keluarga yang dibinanya selama sepuluh tahun belakangan dan yang pasti dia tidak akan mengeluarkan kata2 yang  mengingkari hatinya dalam momen keterbukaan antara suami istri karena itu juga akan menyalahi prinsip dalam diri yang ia terapkan selama ini.

“sayang… cintamu yang panjang tak mengenal waktu pada laki2 itu adalah bukti bahwa kamu dulu tulus mencintainya.
dan aku gak bisa apa2 kalo memang itu ada dihatimu.
aku gak bisa memaksamu mencintaiku seperti kamu mencintai dia.
tp aku mohon belajarlah terus untuk mencintaiku.
kamu masih ingatkan?, perjalanan cintamu bersama laki2 itu.
hingga kamu jadi sangat mencintainya?

“masih mas, emangnya kenapa?”

“kalo kamu masih ingat, setidaknya kamu juga tahu cara mencintai aku hingga bisa seperti itu, bahkan kalo bisa lebih karena aku sekarang adalah laki2 yang halal buatmu.”

Kalimat terakhir itu cukup melegakan hati karena ternyata suaminya tidak marah besar padanya hingga sang istri sanggup menatap kembali wajah suaminya sedikit demi sedikit.

“iya.. terima kasih mas mau mengerti aku,
tp mas soal anak pertama kita yang terlanjur seperti itu gimana?
apakah mas akan bertindak tidak adil padanya?
apakah mas tidak akan bisa lepas menyayanginya seperti mas katakan pagi tadi?
aku nyesel hingga dia tidak mirip dengan mas.”

“sayang… ┬ájujur padaku, apakah sampai sekarang kamu masih merindukannya?”

“ehhmm… kadang2 aku masih rindu padanya mas.”

“ya.. mungkin itulah hikmah dari semua ini sayang.
Allah karuniakan putra pertama kita yang mirip dengan laki2 yang pernah kamu cintai.
saat dirimu haus akan kerinduan padanya, kamu bisa minum dari sungai kecil yang mengalir pada diri anak pertama kita. hingga lepas dahaga rindumu lalu kamu lanjutkan kisah hidup bersamaku. Soal perkataanku pagi tadi yang bilang tidak akan lepas menyayanginya itu hanya sedikit intimidasi biar sayang mau ngomong, tp kayaknya tadi pagi sayang belum siap, maaf ya yang.”

“iya, apa mas gak cemburu, marah atau benci ketika melihat putra pertama kita?”

“nggak sayang… aku nggak marah, kalo cemburu iya karena aku mencintaimu, tp aku akan berusaha bersikap adil diantara anak2 kita karena jelas2 itu darah dagingku, darah daging kita, dan dia tidak tahu menahu soal ini.”

“mas sekali lagi aku mau jujur dan minta maaf kepada mas.”

“tentang apa sayang?”

“tentang rasa rinduku, aku terkadang merindukan pria lain itu, tp tidak pernah merindukan mas sebagai suamiku.”

“wkakakkk….. :lol:”

“loh kok malah ngakak sih mas?”

“kamu tahu rindu itu kenapa dan kapan munculnya?”

“rindu itu kadang-kadang munculnya dan begitu saja munculnya mas.
o iya aku juga mau tanya sebabnya napa mas gak marah, malah ketawa ngakak seperti tadi?”

jawaban polos istri yang dulu gak pernah meletakkan pantat di bangku kuliah itu sungguh membuatnya semakin sayang pada istrinya yang memilih mengikuti kursus tata boga dan mengembangkan hobi memasaknya.

“hehhh… sayang sih adonan tepung mulu yang dipikir.”

“loh mas kok aneh?,
lah emang apa kaitan adonan tepung dengan rinduku?”

“gak… maksudku, untuk menjawab pertanyaan tentang rindu itu ya dipikir sejenak dong.”

“oohh… jadi mas bilang karena aku gak pernah kuliah aku goblok dan jawabnya salah?”

“eeehhh… gak gak sayang, bukan gitu maksudku.
ya udah-udah… itu tadi rindu versi kamu sayang.
kalo rindu versiku akan sedikit kuterangkan ya..”

dengan otot wajah yang mulai rileks, sang istri tersenyum lega,
“iya silahkan, tp jangan nyerempet2 kuliah lagi ya mas”

“yeee.. kan sayang sendiri tadi yang merasa gak kuliah.
udah2 begini…. sayang pernah kan piknik di suatu tempat yang indah?”

“iya mas pernah setahun yang lalu kita sekeluarga pergi bareng bapak ibu ke kepulauan wakatobi di sulawesi tenggara, lautnya, pantainya, ikannya… ahhh, semuanya indah.
Pengin rasanya aku kesana lagi mas.
Ayo mas kapan kesana lagi?”

“ya kapan2 sayang kalo proyekku kelar”

“hu uh.. kapan kelarnya mas?”

“ya mungkin setahun lagi.
terus meski indah gitu pengin gak sayang pindah jadi penduduk sana dan menetap di kepulauan itu?”

“gak ah mas, aku lebih senang di jogja.
meski jogja gak punya keindahan alam seperti itu tapi aku tetap akan tinggal disini daripada disana.
Jadi tentang rindu tadi mas… ? ”

“sayang rindumu pada laki2 lain itu seperti rindumu pada kepulauan indah wakatobi di sulawesi tenggara tadi.
rindu itu muncul karena kamu pernah merasakan sensasi indah dan menyenangkan dihatimu dan kamu pernah merasakan itu bersama laki2 selain aku, wajar kalo kamu punya rindu atau kangen untuk dia. Kalo untuk kepulauan wakatobi kita masih bisa mengobati rindunya dengan melihat foto2 indah hasil jepretan bapak yang emang hobi fotografi, tp kalo kamu yang sudah gak tahu dimana lagi akan melihat kerinduanmu yang lalu pada sosok laki2 lain itu, ya Alhamdulillah kesalahan lamamu membawa hikmah untukmu saat ini, hingga ketika datang rasa itu kamu bisa memandang putra pertama kita.

seandainya kamu jumpa lagi dengan laki2 itu, aku yakin kamu pasti akan senang, dag dig dug.
tp apa terus kamu mau beralih menjadi istri laki2 itu?
apa kamu mau meninggalkan aku sendiri?
apa kamu mau anak-anak kita mendapat kasih sayang dari laki2 laen yang belum jelas bentuk sayang seperti apa buat anak-anak yang butuh sebuah teladan? aku gak mengklaim diriku ini satu2nya teladan yang baik buat anak2 kita, tp diteladanku ada cinta yang mengalir lembut diantara keluarga ini.
kalo kamu memilih meninggalkan aku, itu sama seperti kamu akan pergi ke kepualauan yang indah itu sendirian.
percayalah.. disana kamu akan menemukan bentuk kerinduan yang baru, rindu padaku, rindu pada keluarga kita, rindu pada rumah ini.
aku ngomong begini karena aku tahu istriku itu seperti apa.
sepuluh tahun lebih kita bersama, aku gak cm mengingat tentang hubungan badan kita.
aku melihat pribadimu, dan aku menilai kamu adalah wanita shalihah, dan ketika aku bersamamu aku seakan bersama bidadari surga.”

sang istri terlihat mengangguk-anggukkan kepala, tanda setuju dengan penjelasan suaminya.
Ia tidak bisa menolak masuknya penjelasan itu karena suaminya membawa tiket masuk ke dalam hatinya.
Sebuah tiket pujian sebagai bidadari surga !! ­čÖé

“tapi kenapa aku gak rindu sama mas?”

“ya kalo sayang ada dikepulauan wakatobi apa sayang sempat rindu dengan tempat itu?
sayangkan setiap hari selalu bersamaku, aku programmer yang kerja dari rumah dan sayang sekarang punya katering yang bisa dikelola dari rumah juga, wajar kalo kamu gak pernah rindu padaku, wong kita gak pernah berpisah lewat tiga hari. ┬áwkakakkk…. ­čść

mendengar penjelasan singkat dan jelas dari sang suami, serasa beban yang selama ini dipikul olehnya telah pindah ke tempat yang semestinya hingga wanita itu merasa ada ruang luas dihatinya. sambil menarik nafas dalam2 iapun tersenyum lebar kepada suaminya. Belum juga sampai bibirnya menyelesaikan satu senyuman bahagia, tiba2 tubuh mungilnya ditarik lembut oleh tangan panjang suaminya hingga kini tidak ada celah diantara tubuh mereka. “Cup” sebuah kecupan sayang suami mendarat di kening sang istri.

“mas.. terima kasih.
mas udah mau mengerti aku dan memberiku ruang pribadi untuk sebuah rindu yang terlarang.
ngomong2 kenapa mas bisa sampai paham seperti itu.”

“Aku lebih tua dari kamu sayang, aku sudah melewati masa kebimbanganku.
waktu itu aku curhat dan diskusi bareng teman dekatku karena waktu itu aku belum punya istri.”

“kalo untuk aku, berarti aku bisa juga curhat bareng temanku mas?”

“betul.. dan aku adalah salah satu teman dekatmu dalam hidup ini.
aku lah tempat curhatmu dan tempat berbagi rahasiamu.”

“eehh…. bentar2… ┬ájangan2 mas juga punya wanita lain yang dirindui ya?
kok bisa sangat paham tentang rindu2 tadi mas?
hayo ngaku mas? iya gak mas?”

pertanyaan tadi sekali lagi membuat sang suami ketawa untuk menutupi sesuatu.

“wkakakkk… bisa aja sayang tanya kek gitu :-P”

“ya sudah.. nanti kalo mas siap, pasti akan mengatakannya padaku.”

“kamu pintar sayang.
analisismu tepat, kebetulan sungai kecilku tergambar jelas padamu……..”

bukan kecupan yang diterima suami seperti yang tadi diterima sang istri, melainkan sebuah cubitan kecil di rusuk kirinya.

“ooww… sakit sayang, kamu itu terbiasa memilin adonan, cubitanmu itu kuat sekali.”

“habisnya mas bikin aku gemes… udah aku ketakutan ngaku2 pria lain, gak taunya mas juga gitu.”

“hahah….. iya deh ampuunn.. yang ­čść ”

Sekarang sang istri merajuk karena merasa dikerjai oleh suaminya. Mulutnya sedikit monyong dengan mata sedikit berapi-api, tapi tidak sampai keluar tanduk dari kepalanya :-P. Sang suami merasa kini bagiannya aktif merayu, sambil dibelai mesra rambut panjang istrinya ia berkata seakan mengalihkan salahnya yang bisa dibongkar lebih jauh.

sayangku… masa lalu kita biarlah apa adanya.
kita gak bisa melupakannya kecuali salah satu diantara kita gila.
masa lalu itu, membentuk dan menjadi bagian dari kita.
yang terpenting dari itu adalah kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran serta memaafkan sesuatu yang mungkin menyakitkan dalam proses itu.”

Bersyukur ternyata sang istri juga ingat salahnya, hingga tidak sampai saling menyalahkan lebih jauh.
“hu um.. mas.
ternyata kita sama.
makasih penjelasannya ya mas”

“sama2 sayang”

beberapa menit kemudian mereka terdiam, lalu sang suami bergerak memindahkan buku yang menguping obrolan mereka sedari tadi. mengangkat kacamata, menutup buku tebalnya dan meletakkan di meja kecil disamping ranjang mereka.
“mas udah hampir jam satu pagi.
besok aku harus mengerjakan pesanan kue buat lamaran seseorang.”

“iya kita tidur yuk sayang.”

sang istri tampak sedikit merapikan seprei lalu menyusul rebah disamping suaminya. Tangan sang suami bergerilnya berusaha menemukan tangan pasangan hidupnya di dalam selimut di musim hujan. Sambil meremas-remas telapak kecil yang kasar karena sering bekerja di dapur, ia berkata

“Sayang.. aku cinta kamu.”

“aku pun demikian mas.”

Advertisements

sungai kecil 2

sore itu anak2 terlihat lelah..
pun demikian dengan suami kurus tercintanya yang seharian berkebun dan memenuhi janjinya kepada anak2 untuk keluar mencari es kelapa muda.

sebagai ibu rumah tangga yang sudah berpengalaman, segera wanita mungil itu menggendong anak mereka yang paling kecil untuk segera dimandikan sebelum ketiduran karena lelah.

putra pertamanya yang berumur sepuluh tahun sudah mandiri dan bisa membantu ibunya mengurusi adik2 yang lainnya. diajaknya mandi kedua adiknya, sedangkan si bungsu tetap ditangani si ibu.

seperti biasa, ketika melihat kesibukan keluarga yang lain mandi, sang suami segera menuju kamar anak mereka. menyiapkan setelan2 baju buat anak2 yang kadang belum tahu peruntukan baju2 tertentu.

selesai anak2 mandi, lalu pasangan suami istri itu bergantian mandi dan mengawasi anak2 dan rumah mereka dari dalam karena kebetulan rumah mereka berdiri di tengah2 tanah pekarangan dengan pohon2 besar, jauh dari tetangga sehingga tetap perlu kewaspadaan.

Malampun merayap memenuhi takdirnya….
Tibalah saat tidur dua insan yang saling mencinta tersebut.

“eeehh… mau kemana yang?”

“gosok gigi lagi mas, aku tadi makan permen coklat.”

Sambil mendorong dan menarik sikat diantara barisan giginya, istri mungil itu masih saja mengingat kejadian tadi pagi.

“sebetulnya anak pertamaku itu lebih mirip pria yang selama ini pernah kucintai, sangat2 kucintai, tp kenapa bisa? padahal aku gak selingkuh.

Apakah ini juga mesti kuceritakan ke suamiku?
jika tidak kuceritakan, suamiku pasti masih penasaran, kasian dia dan mungkin kedepannya kasih sayang yang akan diterima anak pertamaku dari bapaknya jangan2 tidak sebanding dengan adik2nya, padahal anakku itu gak salah dan gak tau apa-apa.
Suamiku itu laki2 yang lembut dan nyata2 lebih baik dari pria yang dulu pernah kucintai, jadi kemungkinan kalo aku cerita ini pasti tidak apa2. Kan dasarnya aku gak selingkuh.

ya udah.. ahh, akan kuberanikan diri bercerita hal ini.
kalo suamiku marah, ya udah… masa bodoh, aku akan tetap menyayangi dia dan anak2ku.
aku juga pengen menguji suamiku juga, bismillah..”

selesai menyapu handuk di bagian tubuh yang basah, ia keluar dari kamar mandi.
dilihatnya suami berkacamata itu masih asik dengan buku bacaannya, lalu di dekatinya perlahan dan duduk bersama diatas ranjang yang masih dingin. ditatapnya lekat2, diiringi dengan degup jantung yang sangat keras.

“lama banget yang, sekalian eek po?”

pertanyaan asal itu mampu menormalkan degup jantung yang mulai gak karuan.

“iiihhh…. aku kan sama kayak mas, eeknya pagi hari”

“wkakakkk….. ­čść iya ya udah gitu kita berebut masuk kamar mandi dan kamu selalu bilang ‘ladys first’, padahal aku juga sakit nahannya, tp gak papa lah, demi istri tercinta”.

“oohhh… sakit toh mas?, aduh kasian… ┬ámaaf2 mas”

“iya yang… besok sayang mau coba giliran kedua”

“gak ahh… biar mas aja. kan mas udah pengalaman nahannya”

sambil membalik halaman berikutnya sang suami mendesah,
“hhhhh….. kasian pura2.”

“he.. he… he… iya mas, maaf.”

meski detak jantung kembali normal dengan percakapan ringan itu, tp sang istri masih ragu untuk memulai sebuah pengakuan. dia hanya bisa duduk dengan penuh kebimbangan.

Jam dinding kuno sebagai penunjuk waktu sekaligus melengkapi arsitek kamar barbahan kayu ulin itu terdengar indah disetiap detik perpindahan jarumnya. Hanya saja kali ini menambah angker atmosfir hati sang istri.

tiga belas halaman sudah dibaliknya sejak kata terakhir dari istrinya. laki2 berkacamata itu sesekali membetulkan letak hidung kacamata yang kadang melorot karena buku di pangkuannya.

“teng…. teng… teng…” sepuluh kali jam kuno itu menyapa sepasang suami istri yang berada bersamanya di dalam kamar dengan tampilan eksotik yang redup.

“ada apa sayang? dari tadi cm menatapku seperti itu.”

“loh mas kan dari tadi baca buku, kok tahu kalo aku ngeliatin mas terus”

“emang aku sekali lihat tatap mata kamu dari percakapan terakhir kita tadi, tapi dalam kondisi membacapun aku kan juga bisa tahu kalo tubuhmu bergerak-gerak sedangkan dari tadi posisimu masih sama. ada yang perlu dibicarakan?”

pernyataan itu membuat seakan posisi si istri telah terkepung, kali ini si istri gak bisa lagi menghindar karena bahasa tubuh bisa terbaca oleh suaminya. Dalam hati ia bertekad “gak peduli apapun yang terjadi, aku akan menerapkan kejujuran dan keberanian yang diajarkan orang tuaku, toh aku tidak melakukan kesalahan yang bisa dihukum secara syariat. bismillahirrahmanirrahiim….”

(bersambung)

sungai kecil 1

Sepuluh tahun berlalu sejak kelahiran putra pertama mereka. ┬áKeluarga kecil itu menghabiskan hari libur dengan menikmati suasana pagi yang cerah di halaman teras rumah tinggal yang sederhana. Lama sang suami menatap putra pertama mereka yang sedang bermain-main bersama adik perempuannya di kebun rumah, lalu dia berkata,┬á┬á“sayang, putra pertama kita kok gak mirip dengan aku atau siapapun di keluarga kita? ”

celetuk yang tajam itu membuat panik sang istri, lalu ia menjawab dengan nada yang tinggi, “tt.. tapi mas itu anak kita, aku gak selingkuh sama sekali. mas kan tahu, aku dari keluarga yang taat agama, dibesarkan dengan didikan orang tua yang baik sesuai dengan tuntunan agama, aku juga gak pernah keluar rumah seijin mas kan?, ┬ásumpah mas aku gak pernah selingkuh, anak itu anak kita mas, anak itu darah daging mas sendiri. masak mas gak percaya? masak mas g…..”

“aku gak pernah meragukan keshalihan istriku, tapi aku hanya mau kamu jujur agar aku gak penasaran aja. katanya sayang dibesarkan dengan tuntunan agama? berarti harus berani jujur dong?”

“aku ini jujur mas, lagian ┬ásebegitu pentingnya kah hal seperti itu mas?”

selesai menyeruput teh hangat buatan istrinya, dia menjawab,
“mungkin… karena sebenarnya aku sudah penasaran dari dulu, cuma aku gak bisa menemukan jawabannya karena istriku gak mungkin selingkuh dengan pria lain.
Lagipula aku pengin tahu sejujur apa istriku ini, siapa tahu kamu mempunyai buyut orang eropa yang belum dikenalkan padaku?
atau mungkin ada yang lainnya yang kamu belum cerita ke aku? ”

lalu dengan sedikit tipuan, sang suami menambahkan, “sebenarnya aku menyayangi anak kita, tp karena ganjalan ini aku jadi kurang lepas menyayanginya. kamu gak mau kan aku menjadi seperti itu kalo itu memang darah dagingku?”

wanita mungil itu kini tidak lagi kelihatan imut, parasnya menjadi tegang dan siap menantang perkataan suaminya yang dinilai mencari gara-gara.

sang suami melihat perubahan itu di wajah istri tercintanya, lalu berusaha menurunkan tensi pembicaraan mereka dengan didahului tawa lepas dan nyengir sambil mencolek wajah imut istrinya.

“ya sudah… aku tadi becanda kok sayang”

“gak!!! yang seperti itu gak bisa kuanggap sebagai candaan pa!!”

rupanya suara itu cukup keras hingga didengar anak2 mereka yang sedang bermain.
“ma kenapa? papa godain mama lagi ya?”

“iya nih.. papamu emang nakal, sukanya godain mama mulu.”
sang istri dengan spontan mengajukan jawaban menipu karena mereka berdua diawal pernikahan sepakat untuk menyembunyikan hal-hal buruk dari putra-putri mereka.

“ohh.. ya sudah ma. pa… papa, nanti siang kita keluar beli es kelapa muda ya. ya pa…”

“woke…, tp dibereskan loh ya mainan dan kamar masing2”

“ehmmm… nanti mama aja yang beresin kamarku pa”

“oohhh…. jadi tadi belain mama dari papa cuma mau manfaatin mama ya”

“hahahaa…..” sambil ketawa putra pertama mereka pergi kembali bermain bersama adik-adiknya.

sambil berlalu dibelakang suaminya dengan nampan berisi cangkir dan poci teh yang telah habis, sang istri menambahkan.
“lihat kan mas, kelakuannya yang suka ngerjain dan memanfaatkan orang lain mirip banget seperti mas”

“he.. he.. iya ya…ma, mirip aku.
sini sayang, aku bantu bawa sebagian”.

“itu mas, gelas kecil dipojok”

“masak bawa yang kecil? gak puas bantunya sayang.”

“ya kalo mau yang besar, gendong aja aku sekalian mas.”

“beneran nih sayang? beneran nih?”

sang istri tersenyum manja, lalu suami yang kadang terlihat kekanakan itu paham dengan maksud istri tercintanya.
dikejarnya istri mungil itu dengan berlari dalam gerak lambat, ┬áhingga tentu saja sang istri tidak pernah ketangkap, sebab kalo ketangkap bisa pecah semua tuh cangkir dan poci diatas nampan ­čść

(bersambung)

tinju tunawisma

selepas maghrib di masjid, pria muda itu mampir di warung angkringan.
dua nasi kucing dan sebungkus teh hangat segera dibayarnya.

“Bu… ini ada sedikit nasi buat ibu.”
“terima kasih… lah sampeyan(Anda Anak Muda) sudah makan apa belum ? ”
“su.. sudah bu. ya sudah ya bu… ┬ásilahkan ibu nikmati. ”

sambil merasakan sesaknya dada, pria itu berjalan pulang dengan langkah gontai.
perasaan gundah bercampur menjadi satu akibat tinju yang dilontarkan dari mulut seorang ibu tua tunawisma yang baru saja diberinya sedekah. Rasa sesak didada itu terus naik ke atas hingga mencapai otak ┬ádan memecahkan pembuluh keheranan yang ada dikepalanya. Kata demi kata merembes membasahi keningnya, mengalir menguntai menjadi sebuah tanya dalam hati. ┬á “Dia hanyalah seorang wanita tua tunawisma yang kalo dilihat dari tingkahnya bisa dikatakan dia juga orang gila, hidup sebatang kara, belum tentu sehari sekali makan, tapi kenapa ketika kuberi makan dia masih juga memikirkan nasibku? yang jelas-jelas aku ini orang mampu, pakaian bagus, tubuh wangi, rambut tersisir rapi, kulit kuning sehat dan sebentar lagi mau makan nasi padang, ┬átapi kenapaaaa…. dia masih memikirkan orang lain, padahal dia sendiri juga berada dikeramaian rasa laparnya?”

ya Allah… seandainya orang-orang waras(tidak gila) nan mampu juga masih memikirkan orang lain…. tentu dunia ini sangat-sangat indah untuk dijalani.

dan…. ┬ámaghrib itu adalah pertemuan terakhir antara pria muda dengan si ibu tua tunawisma.┬áEntah berteduh dimana lagi dan apa yang akan dimakannya saat ini???

Sepasang Merpati Tua

Malam terus merayap.
Mobil sederhana itu melaju kencang di tol surabaya-malang menuju sebuah vila indah di daerah batu, kota Malang.
“Begitulah kisah hidupku dengan istriku dulu ma…”.
“Papa menangis?”
Temeram lampu jalan mengiringi kebisuan atas pertanyaan sang istri.

Di vila yang sejuk, selepas sholat tahajud, sang suami menyandarkan kepala diatas pangkuan istri shalihahnya dan beristirahat dari kehidupan dunia ini untuk selamanya.